Pada sebuah percakapan hujan , kita meranggas pada sebuah ruang dengan sebuah mimpi berwarna coklat. Sebuah waktu menjadi sebuah niscaya yang ditasbihkan pada guratan luka. “Aku ingin bersamamu” kata airmata pada pagi yang tak pasti dan hujanpun seperti memahami bahwa noktah bernama detak ,tidak lagi bisa belari dari warna merah bernama darah. Kita pun kembali bercakap dalam gelembung sabun yang kita tiupkan sebagai mimpi , padahal kita tahu yang kita ciptakan hanya fatamorgana dengan tulisan di dalamnya “Mari segera kosongkan segala merah bernama darah dari segala yang berbunyi detak”. Gambar waktumupun akan kembali menempel di dinding-dinding ingatan pada sebuah sunyi bernama hati. Dan pada percakapan hujan, akan selalu kucari bayang-bayang pada jejak waktu dari sebuah senja yang menunggu diam-diam pada cinta. Ubud, Mei 2011